waktuWaktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian.

Setiap masyarakat memilki pandangan yang relatif berbeda tentang waktu yang mereka jalani. Untuk mengukur skala waktu yang berlangsung sangat cepat, kebanyakan orang menggunakan satuan mili detik (seperseribu detik), mikro detik (seper satu juta detik), nano detik (nanoseconds), piko detik (picoseconds), dst. Di sini kita akan membahas waktu dalam tiga kategori, yaitu waktu yang mekanis, elastis dan waktu yang ilusif.

Waktu yang Mekanis

Secara mekanisasi waktu terus melaju tidak pernah berhenti, seperti jam dinding yang terus melaju dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari, minggu, bulan tahun dan seterusnya dan menjadi tanda mengenai waktu secara konstan. Mekanisasi waktu juga bisa ditandai dengan adanya pergantian pagi menjadi siang, siang menjadi sore, sore menjadi malam, dan kembali pagi terus berulang dan mensiklus yang tidak pernah putus. Begitu terstrukturnya mekanisasi waktu sehingga waktu digunakan sebagai pedoman untuk mengontrol, memanajemen terhadap apa saja yang menjadi kepentingan dalam pengorganisasian termasuk diri manusia sendiri.

Waktu yang Elastis

Waktu seakan mengalami perlambatan dan atau percepatan. Albert Einstein mengatakan waktu itu relatif, seperti karet bisa merenggang bisa menyusut, terkadang waktu terasa cepat kadang juga waktu terasa begitu lambat. Hal semacam ini mungkin pernah kita rasakan ketika kita sedang mengikuti salah satu mata pelajaran yang tidak kita suka di sekolah, satu jam bagaikan sehari lamanya, seakan waktu begitu lama untuk melangkah dari detik ke detik, menit ke menit dan seterusnya. Atau saat kita sedang asik bermain ke rumah teman bersenda gurau dan tanpa terasa waktu sudah hampir malam, mungkin ini yang dimaksud Einstein dengan teori relativitasnya itu. Jadi bila kita mencermati teori relativitas dari Einstein, bahwa waktu itu seperti karet maka bisa dikatakan pikiran atau otak kita mampu mempengaruhi atau mengkondisikan cepat lambatnya waktu yang pada kenyataannya berjalan secara mekanis dan konstan.

Waktu adalah Ilusif

Apakah waktu itu adalah ilusif? Bila waktu digunakan sebagai pedoman untuk mengontrol dari kehidupan sehari-hari maka bisa dikatakan bahwa 24 jam dalam sehari, 365 hari dalam satu tahun dari mekanisasi waktu merupakan satuan dari sistim kalender yang tidak Cuma satu di dunia. Jauh dekat, lama dan cepatnya waktu merupakan proses penterjemahan otak yang juga dipengaruhi oleh suasana dan perasaan hati yang sedang terjadi. Siang, malam, gelap dan terang merupakan sebuah ritme dari perubahan alam semesta.

Tubuh kita juga mengalami sebuah ritme perubahan, mulai dari sel-sel yang terus berganti dan memperbarui diri, tubuh yang tumbuh dan berkembang. Sedangkan sel sendiri tidak mengenal apa itu detik, menit dan sebagainya. Sel melakukan ritmenya sendiri dengan memperbarui diri tanpa pengaruh hitungan waktu. Ritme semacam ini juga dialami oleh alam semesta yang kita tempati ini yang merupakan bagian kecil dari hal yang besar, yang merupakan salah satu galaksi dari miliaran galaksi yang ada di alam semesta.

Waktu merupakan hasil dari terjemahan otak, dan otak melakukannya dibawah sadar, semacam sebuah proses alamiah, sehingga timbul sebuah penterjemahan tentang saat ini, masalalu dan masadepan. Maka dengan itu kita bisa tahu terhadap perkembangan dari tubuh kita sendiri, sehingga tubuh kita bisa merasakan adanya pertumbuhan, perkembangan, dan berevolusi.

Jadi waktu merupakan produk dari pemikiran manusia yang digunakan sebagai catatan penunjang dari perjalanan alam semesta ini. Sehingga waktu ada karena keinginan manusia yang paling mendasar untuk dijadikan kendali atas perjalanan hidupnya.