Anne Frank lahir 12 Juni 1929 di Frankfurt, Jerman, dari keluarga pengusaha Yahudi. Pada 1934. Ketika kediktatoran Hitler dan Nazi-nya merajalela hampir seluruh daratan Eropa termasuk Belanda, Anne dan keluarganya pindah ke Amsterdam karena tak kuasa menahan kecemasan atas pembersihan etnis anti-Yahudi yang diterapkan Hitler. Mereka terpaksa menyingkir untuk menyelamatkan diri dari “kebijakan” yang diterapkan oleh pemerintahan Hitler yang disebut sebagai “Penyelesaian Akhir” (Final Solution) terhadap “Masalah Orang Yahudi” (Jewish Question). Peristiwa ini terjadi pada Juli 1942.

Suatu hari setelah kakak perempuannya, Margot, menerima “surat panggilan” dari SS (Schutzstaffel) : merupakan kesatuan militer (quasi-military) partai Nazi, yang ditugaskan sebagai polisi khusus. Anne merekam penistiwa ini dengan gemetar dalam catatan hariannya: “Aku serasa mau pingsan. Surat panggilan: semua orang tahu apa artinya. Bayangan kamp konsentrasi dan sel tahanan menghantuiku. Aku syok dan menangis. Margot baru berumur enam belas. Rupanya mereka ingin mengirim gadis-gadis menurut cara mereka”. Sehari kemudian Anne dan keluarganya bersama keluarga Van Pels memutuskan untuk sepenuhnya bersembunyi dari incaran agen SS di suatu tempat yang mereka sebut sebagai “Secret Annex”, sebuah ruang rahasia di kantor ayahnya, Otto Frank, di Prisengracht 263, Amsterdam.

Berada di tempat rahasia, tersembunyi, penuh kecemasan dan ketakutan, tentu membuat perasaan seseorang terpenjara dan tersiksa. Namun Anne memiliki sarana pembebasan dalam sebuah catatan harian, yang Ia beri nama Kitty, yang ia peroleh pada saat hari ulang tahunnya yang ke-13. Anne mulai menulis dalam catatan hariannya pada 12 Juni 1942 sebagai berikut: “Aku berharap aku bisa mencurahkan si hatiku padamu dengan cara yang belum pernah aku lakukan kepada siapa pun sebelumnya, ku harap kamu dapat memberi rasa nyaman dan juga semangat untukku”.

Anne memilih untuk menulis disebuah catatan harian dan memberinya nama Kitty, menjelaskan bahwa, karakternya sebagai seorang gadis belia yang tertutup dan penyendiri. Meskipun Ia menyadari, hal itu sebagai suatu “kekurangan” dan bahkan “kesalahan”, namun Anne tak tergugah untuk memperbaikinya, sebagaimana pengakuannya pada 20 Juni 1942 : “Sekarang, aku akan mengatakan alasan yang mendorongku untuk memiliki catatan harian, tidak lain karena: aku tidak memiliki sahabat. Selama ini yang kupikirkan tentang persahabatan adalah bagaimana bisa bersenang-senang bersama teman. Tetapi kenyataanya, dihadapan mereka, aku tidak bisa berbicara dan bersikap wajar, lagi pula menurutku kami tidak bisa saling dekat. itulah masalahnya. Mungkin ini salahku, karena aku tidak bisa terbuka. Tapi mau apalagi, memang keadaannya sudah telanjur seperti ini dan sulit diubah. lnilah alasan mengapa aku ingin memiliki sebuah catatan harian. Aku ingin, catatan harian ini menjadi teman dan sahabatku, karenanya aku akan memberi dan memanggil teman satu ini dengan nama Kitty”.

Maka, Kitty benar-benar menjadi sahabat Anne, teman dekat yang setia, dan tak terpisahkan dari kehidupannya, selaras dengan Kitab Amsal yang sudah lama direnungkannya: “Kertas memiliki kesabaran yang lebih dari pada manusia”. Wajarlah bila hanya kepada Kitty, Anne bersedia mencurahkan tentang isi hati dan pikiran dengan seluruh suka-duka kehidupannya di “Secret Annex”.

Misalnya, Anne dengan jujur bercerita tentang “keberuntungan” mereka hidup di “Secret Annex” pada 13 Januari 1943: “Kami cukup beruntung dibanding orang lain yang jutaan jumlahnya. Di sini tenang dan aman, dan kami memakai uang kami untuk beli makan. Kami terlihat egois membicarakan “pasca-perang” dan membeli baju atau sepatu baru, pada saat kami seharusnya bisa menabung untuk membantu orang lain setelah perang berakhir, untuk menolong semampu kami. Anak-anak di sini berlarian dengan kaos tipis dan sepatu kayu. Mereka tidak punya jaket, kaos kaki, topi, dan tidak ada yang menolong. Segalanya sangat buruk di Belanda sehingga gerombolan anak-anak menyetop orang yang lewat di jalan untuk meminta sepotong roti”.

Namun, keberuntungan ini tidak lantas memalingkan mereka dari kenyataan, bahwa mereka adalah mangsa yang masih terus diburu, dan saat itu tengah terpenjara di kediaman mereka sendiri. Yang mengejutkan, Anne mencatat ini secara panjang lebar dalam catatan hariannya pada 13April 1944 sebagai malapetaka yang diciptakan Tuhan bagi orang Yahudi mutatis mutandis untuk menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya kekuatan yang mampu menyelamatkan mereka dari malapetaka itu.

Namun, di tengah ketakutan dan ketidak pastian serta kerinduan yang amat besar akan kebebasan itu, Anne memiliki harapan yang amat tinggi. Dan harapan serta optimisme itulah yang membantunya melewati masa-masa sulitnya. Pada pagi hari atau malam hari saat jendela boleh dibuka, Anne akan duduk di depan jendela lantai paling atas bersama dengan Peter Van Pels dan melihat ke langit. “Pagi ini saat aku duduk di depan jendela dan sangat lama disana, menatap betapa dalamnya Tuhan dan alam, aku bahagia. Kekayaan, kehormatan, segala sesuatu dapat hilang. Tapi kebahagiaan di dalam hatimu hanya dapat berkurang, ia akan selalu di sana, selama kamu masih hidup untuk membuat dirimu kembali bahagia. Bila kamu merasa sedih, cobalah naik ke loteng pada hari yang indah dan menatap ke luar. Bukan pada rumah-rumah dan atapnya, namun pada langit. Selama kamu dapat menatap langit tanpa rasa takut; kamu akan tahu bahwa kamu suci di dalamnya dan akan menemukan kebahagiaan sekali lagi.”

Lantas bagaimana Anne bisa tahu keadaan lingkungan di sekitarnya, padahal Ia berada dalam persembunyian di “Secret Annex”? Anne menjawab dalam tulisannya pada 28 November 1942: “Kemarin aku menemukan hiburan baru : mengintip rumah tetangga yang terang dengan teropong. Siang hari korden kami tidak boleh dibuka sedikit pun, meski tidak ada bahaya dalam gelap. Aku tidak tahu bila tetangga bisa menjadi sesuatu yang menarik”. Dengan cara itu pula Anne menulis sambil kerapkali mengintip orang-orang yang sedang lalu-lalang di sekitar kawasan “Secret Annex”, sebagaimana yang dicatatatnya pada 13 Desember 1942: “Aku duduk manis dan tenang di front office, mengintip lewat celah konden. Sangat berdebu, tapi ada cukup cahaya untuk menulis. Sangat aneh melihat gerak-gerik mereka yang kelihatan terburu-buru seolah-olah hampir mendahului kaki mereka sendiri. Mereka yang bersepeda tampak ngebut sehingga aku tidak tahu siapa meneka”.

Selain itu, Anne rupanya gemar mendengar siaran radio swasta, tentu saja dengan volume pelan, yang dalam catatan Anne (17 November 1942) merupakan salah satu ‘Fasilitas Khusus bagi Kaum Tertindas” di “Secret Annex”, sehingga beralasan kiranya jika ia pun mengetahui situasi perang yang terjadi di luar tempat persembunyiannya, seperti yang dirangkumnya pada 6 Juni 1944, satu minggu sebelum hari ulang tahunnya yang ke-15: “Siaran radio BBC di lnggris pukul 13.00: sebelas ribu pesawat pulang pergi atau siap untuk mendaratkan para pasukan lalu menjatuhkan bom di belakang garis lawan; empat ribu pesawat mendarat dan beberapa kapal kecil akan terus-menerus berdatangan di kawasan antara Cherbourg dan Le Havre. Pasukan Inggris dan Amerika siaga untuk terlibat dalam pertempuran dahsyat. Pidato Gerbrandy, Perdana Menteri Belgia, Raja Haakon dari Norwegia, De Gaulle dari Prancis, Raja Inggris, dan terakhir yang tak kalah pentingnya, Churchill”.

Siaran seperti ini jelas rnerupakan kabar gembira bagi para penghuni “Secret Annex”, dan lebih dan itu membangkitkan kembali optimisme mereka akan hidup bebas dan merdeka dari segala penderitaan yang rnenindas dan menghina jiwa-raga mereka. Tapi malang tak dapat ditolak. Dua bulan atau tepatnya 4 Agustus 1944, pukul 10.30 pagi setelah optimisme itu mengharu-biru kehidupan mereka, tiga anggota Polisi Keamanan Belanda berpakaian sipil dan seorang bintara SS berseragam lengkap, sersan satu Karl Josef Silberbaur berhasil menciduk mereka berdasarkan laporan seseorang yang telah memata-matai keberadaan mereka di “Secret Annex”.

Menurut Roger Rosenblatt (Time, 14 Juni 1999: 35), pencidukan itu dengan kejam telah membunuh dua nyawa sekaligus. Pertama, mereka membunuh sebuah buku; kemudian mereka membunuh seorang anak. Alih-alih, melalui catatan hariannya ini, Anne Frank menjadi figur yang kekal dalam ingatan banyak orang sebagai salah seorang korban dari 5 juta orang etnis minoritas (Polandia dan Gypsi) dan 6 juta orang Yahudi yang dibunuh, banyak di antaranya dibunuh di kamp-kamp konsentrasi antara tahun 1942 sampai 1945. Kenyataan ini seakan-akan mengejawantahkan kata-kata yang ditulisnya satu tahun sebelum ia berkalang tanah karena serangan penyakit tipus di kamp konsentrasi Bergen-Belsen: “Aku ingin menjadi seorang yang berguna atau memberi kebahagiaan pada orang-orang di sekitarku yang belum sepenuhnya mengenalku. Aku ingin terus hidup bahkan setelah kematianku”.