“kengerian telah menggantikan waktu yang kami jalani”,

dan “aku hanya dapat melihat dunia luar lewat jendela”

Ungkapan dari seorang gadis belasan tahun dalam buku hariannya, yang tengah tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang menyenangkan. Hingga perang mulai berkecamuk, menghancurkan kebahagiaan dan impian masa kecilnya.

–o0o–

Zlata Filipović, lahir 3 Desember 1980 di Sarajevo sebagai putri tunggal dari pasangan Malik – Alica Filipović yang berprofesi sebagai pengacara dan ahli kimia. Zlata mulai menulis catatan harian pada 2 September 1991, tiga bulan sebelum Ia merayakan ulang tahun yang ke-11. Zlata memanggil catatan hariannya dengan nama Mimmy. Semula Zlata mengisi catatan hariannya seperti halnya anak gadis seusianya. Ia menulis tentang cerita-cerita gembira, bermain dan belajar bersama teman-teman disekolah atau di rumah. Namun, perang yang berkecamuk di Bosnia Herzegovina pada awal 1992 telah mengubah entri dari catatan hariannya, seperti yang Ia tulis pada 20 April 1992:

“Perang seolah dapat melakukan segalanya, kecuali bercanda. Ia mampu menghancurkan, membunuh, membakar, memisahkan, dan membawa kemalangan”.

Situasi inilah yang kemudian memaksa Zlata untuk mengubur semua impian indah masa kecilnya, dan memaksanya untuk menjadi saksi dari perang yang tidak sepantasnya dialami oleh anak-anak tidak bersalah seusianya. Beberapa hari setelah pertempuran sengit meledak di Sarajevo, Zlata menulis:

“Mimmy sayang, aku tidak akan lagi menulis kepadamu melulu tentang diriku. Aku akan menulis kepadamu tentang perang, kematian, luka, liang perlindungan, kesedihan, dan kesengsaraan”.

Sejak saat itu Zlata mulai menulis tentang semua perasaan, semua yang disaksikan, dan semua yang didengarnya tentang perang, instrumen politik yang sengaja diciptakan untuk memecah belah perdamaian. Zlata berkata dalam catatannya, “pensil yang paling hitam, yang hanya memahami kemalangan dan kematian”. Zlata berlindung di ruang bawah tanah apartemen orang tuanya yang tak terurus, bau, gelap, tanpa penerangan listrik atau gas, dan tanpa air. Satu-satunya tempat perlindungan yang dirasa aman untuk menghindari serangan bom dan mortir, bersembunyi dari sasaran penembak gelap (sniper), sebagai mana yang ditulisnya pada 2 Mei 1992:

“Suatu saat, tiba-tiba aku sadar bahwa ruang bawah tanah yang buruk ini satu-satunya tempat yang dapat melindungi dan menyelamatkan nyawa kami”.

Dengan penerangan lilin, Zlata menulis catatan hariannya, dan mencahayai kegelapan ruang bawah tanah sembari terus bertahan hidup bersama orang tuanya, dengan harapan bahwa perang tak akan berkepanjangan dan betul-betul berakhir. sekalipun “kengerian telah menggantikan waktu yang kami jalani”, dan “aku hanya dapat melihat dunia luar lewat jendela”, tulis Zlata pada 16 Juni 1992, dan 20 Juli 1992. Harapan Zlata dan orang tuanya benar-benar terwujud satu tahun kemudian. Mengetahui bahwa Zlata memiliki catatan harian yang mengungkapkan perasaannya tentang perang yang berlangsung di Sarajevo, UNICEF tergugah dan tertarik untuk menerbitkannya dalam bentuk buku, dan meminta Zlata untuk mempresentasikannya di hadapan para wartawan, aktivis Pusat Perdamaian Internasional, dan masyarakat Sarajevo yang masih bertahan dan tinggal di antara puing-puing reruntuhan kota itu.

Zlata merekam peristiwa yang menggembirakan itu secara panjang lebar pada 17 Juli 1993:

“Mimmy sayang, HARI PRESENTASI … Semuanya berjalan lancar. Gadis pembawa acara sangat mirip dengan Linda Evangelista. Sambil berdiri di dekat piano, ia membacakan salinan dirimu, Mimmy. Bibi Irena juga hadir. Seperti biasa ia ramah dan hangat, dan selalu menyiapkan kata-kata lembut baik di hadapan anak-anak maupun orang dewasa. Semua ini berlangsung di Ruang Cafe Jez, yang dipadati banyak orang hebat: semua yang kucintai, keluargaku, sahabat-sahabat keluarga, teman-teman sekolah, dan tentu saja para tetangga. Saat itu listrik menyala (disel) dan segalanya tampak jauh lebih indah di bawah cahaya lampu yang terang benderang. Aku harus mengucapkan terima kasih kepada Gordana Trebinjac dan Pusat Perdamaian Internasional, penanggung jawab hari presentasi itu, yang berlangsung memuaskan. Tentu saja banyak kamera mengabadikan peristiwa itu. Dan sejumlah karangan bunga mawar dan margrit untuk menghormati kita, Mimmy”.

Sejak itu, Zlata menjadi pusat perhatian para wartawan dunia, sebagaimana yang ditulisnya pada 2 Agustus 1993:

“Mimmy sayang, para wartawan, juru potret, dan juru kamera terus berdatangan. Mereka menulis, memotret, membuat film, dan hasilnya akan dibawa ke Perancis, Italia, Kanada, Jepang, Spanyol, dan Amerika. Tetapi sementara itu kau dan aku tetap tinggal di sini, Mimmy. Kita harus tetap tinggah di sini untuk menunggu dan menemui mereka. Mereka membandingkan diriku dengan Anne Frank. Perbandingan yang membuatku takut, Mimmy. Aku takut nasibku akan berakhir seperti dirinya”.

Atas bantuan mereka, terutama Alexandra Boulat, wartawan foto Sipa Press, Zlata dan orang tuanya bisa keluar dari kota kelahirannya menuju Paris pada 23 Desember 1993. Atas upaya Alexandra pula catatan harian Zlata dapat terbit secara luas dalam bahasa Perancis pada tahun yang sama. Sesudah itu, catatan harian Zlata menjadi salah satu buku yang paling laku (best seller) di dunia, atau tepatnya telah terbit dalam 35 bahasa, termasuk dalam bahasa Indonesia.

Zlata bersama orang tuanya tinggal di Paris selama satu tahun. Mereka kemudian pindah ke Dublin, Irlandia, di mana mereka masih berada hari ini. Ia telah meraih gelar Bachelor of Science (BSc) dari Oxford University, lnggris, Master of Philosophy (M.Phil.) dari Trinity College Dublin, Irlandia. Lebih dari itu Zlata terus berupaya menggalang bantuan untuk para korban perang di negara-negara bekas Yugoslavia, serta menjadi juru bicara bagi anak-anak yang menderita akibat perang di Sarajevo. Dia telah berbicara secara ekstensif di sekolah dan universitas di seluruh dunia tentang pengalaman-pengalamannya dan telah berkolaborasi dengan organisasi seperti Anne Frank House, PBB, UNICEF dan UNESCO. Selain itu, Zlata duduk di bagian Komite Eksekutif Amnesty Internasional Bagian Irlandia, dewan Voice of Slavery, dan bekerja pada sebuah film dokumenter di Irlandia, serta banyak lagi aktivitas yang Ia lakukan yang berkaitan dengan perdamaian dunia.