Begitu Sulitnya menjadi seorang “pembicara” yang baik, terlebih sulit lagi menjadi “pendengar” yang baik. Sebuah kata berujar “Telinga adalah Ekspresi pikiran dan perasaan”. Telinga merupakan sebuah anugerah untuk mendengar, mengetahui, mengidentifikasi dan mendefinisikan seluruh informasi dalam bentuk energi yang bergerak dari sebuah gelombang getaran suara. Telinga akan memberikan efek transformasi dari pikiran ataupun perasaan, dan akan diterjemahkan dalam bentuk visual gerak-gerik tubuh.

Telinga mampu untuk mengabaikan segala bentuk getaran suara yang tidak dikehendakinya, betapapun kuat dan kerasnya gelombang energi getaran tersebut. Telinga juga sanggup untuk menangkap aliran denyut energi yang lembut diantara getaran gelombang energi yang kuat. Seorang ibu mampu mengabaikan suara-suara berisik yang mengganggu saat sedang tertidur pulas, dan dalam sekejap seorang Ibu akan terbangun dari tidur pulasnya saat menangkap getaran lembut dari bayinya yang menangis.

Seperti halnya dedaunan yang mampu menadah sejuk dan lembutnya butiran embun, namun dedaunan perlahan akan menumpahkannya ketika sudah tidak sanggup lagi menampungnya. Telinga akan senantiasa menampung segala bentuk transformasi getaran suara yang didendengarnya, hingga sampai pada tahap tertentu telinga perlahan akan mengabaikan sesuatu yang didengarnya.

Manusia memiliki dua daun telinga yang dapat membuat segala sesuatu menjadi berbeda. Telinga mampu menembus imajinasi bayang-bayang mimpi masa lalu saat menangkap getaran lembut dawai-dawai irama tertentu. Manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam hal “Mendengar”. Seorang kawan tidak akan serta-merta mendengarkan keluh kesah dari sahabatnya yang ingin bercerita tentang permasalahan yang dialaminya, saat seorang kawan tersebut juga membutuhkan “pendengar yang baik” untuk menyegarkan kepenatan yang sedang dihadapinya.

Seorang “Pembicara” yang baik akan mampu membuka telinga dari pendengarnya untuk menyimak dan menangkap apa yang diutarakannya. Namun bukan tidak mungkin seorang “Pembicara” yang baik akan terkapar dan tak sanggup menahan aliran energi yang masuk dalam pendengarannya, yang mulai merusak psikisnya dan menjadi seorang “Pembicara” yang buruk. Namun seorang “Pendengar” yang baik akan senantiasa memiliki kemampuan untuk menampung, menyerap, menelan keluh kesah dan akan terus bertahan meskipun dalam kondisi psikis yang tidak memungkinkan, menjadi seorang penyemangat yang tanpa mengeluarkan banyak kata yang mungkin hanya akan terbuang sia-sia.

Seberapa sanggupkah kita sebagai pribadi dalam memahami dan menghayati dari segala bentuk getaran-getaran yang terangkum dalam pendengaran kita. seberapa berharga pendengaran kita bagi kehidupan orang lain. Telinga bukan sebuah benda yang simpel  seperti bentuknya. Telinga mempunyai pengaruh yang luar biasa hebat terlepas dari kesadaran kita dalam mengenali cara kerja dari indra pendengaran yang lazim kita sebut sebagai telinga.