Malam itu seolah-olah Markesot adalah seorang waliyullah. Matanya memancar aneh dan wajahnya seperti mengeluarkan cahaya. Radar wilayah-nya bergetar oleh gelombang karamah dari Allah.

Seorang pemuda tetangga sedang berulang tahun. Markesot memprakarsai suatu syukuran kecil dengan menyembelih ayam. Tapi inti dari syukuran ultah adalah berkumpulnya pemuda-pemudi berbagi membaca Al-Quran kemudian khataman.

Itu semua berlangsung pas dari maghrib ke isya’, karena ada beberapa pemuda yang lambat baca Al-Quran. Sesudah berjamaah isya’, baru si ayam disantap beramai-ramai.

Kenapa syukuran ultah pakai menyembelih binatang?

Bukan beli daging ke toko, tapi menyembelih. Seperti kambing yang disembelih sebagai gantinya Ismail a.s. dulu. Semoga ini mengandung logika: dengan menyembelih ayam, si pemuda yang berulang tahun dalam hidupnya selanjutnya tak perlu menjadi korban. Sudah ‘diganti oleh ayam’.

Khataman berlangsung dengan penuh getaran dan mengenaskan hati. …Idza dzukirallahu wajilat qulubuhum wa idza tuliyat ‘alaihim ayatuhu zadat-hum imana…. Bila disebut nama Allah, tergetarlah hati mereka, dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahla keimanan mereka.

Markesot sendiri menangis. Meneteskan air matanya, meskipun wajahnya tetap tersenyum.

Begitu usai ia berzikir bersama sehabis shalat isya’, Markesot berkata, “Kalian lihat itu di jalan ada penjual kacang godog (kacang rebus). Berbicaralah kalian tentang dia….”

Suasana hening. Tak seorang pun membuka mulutnya. Mungkin belum mengerti persis apa yang dimaksud oleh Markesot yang kali ini memang berlaku agak serius.

“Kenapa tak ada yang bicara?” ulangnya.

Suasana tetap diam.

“Setiap saat kalian adalah anak-anak muda yang selalu riub rendah berbicara, bahkan tentang hal-hal yang besar: politik, pemenintah, birokrasi, Pancasila….”

Tetap belum ada suara.

“Apa yang dilakukan oleh penjual kacang itu?”

Menjual kacang…,” jawab seorang pemuda.

“Ya. Apa itu?”

“Mencari nafkah….”

“Bagus. Kapan saja dia mencari nafkah?”

“Tiap malam….”

“Berapa lama tiap malam ia mencari nafkah?”

“Hampir sepanjang malam?”

“Ke mana saja ia sepanjang malam?”

“Keliling kampung-kampung….”

“Untuk siapa Ia mencari nafkah?”

“Untuk anak-istrinya….”

“Untuk anak-istrinya…,” kemudian kata-kata Markesot tumpah seperti air terjun, “Mencari nafkah untuk anak-istri, berjalan menelusuri gang-gang kampung demi kampung. Siapakah diantara kalian yang mau melakukan hal seperti itu?”

Tak ada suara.

“Kalian semua ingin jadi orang besar. Ingin jadi pejabat atau setidaknya pegawai. Kalian semua ingin mencari uang dengan cara yang segampang-gampangnya untuk memperoleh hasil sebanyak-banyaknya. Kalian dengan sengaja mencari tempat yang kalian tahu akan menjebak kalian untuk melakukan korupsi-korupsi….

“Kalian pandanglah wajah penjual kacang itu. Kalau dia maling, tak akan mau Ia repot-repot semalam-malaman keliling kampung. Ia berjualan kacang karena Ia ingin makan dan memakani mulut anak-istrinya dengan keringatnya sendiri. Kalian pikirkanlah, apakah yang kalian makan dan minum selama ini adalah hasil keringat yang sah dari orangtua kalian.

“Kalian renungkanlah siapa manusia yang lebih mulia dibanding orang yang hanya bersedia memakan hasil keringatnya sendiri, dan untuk itu ia bersedia berpayah-payah berjualan sepanjang malam meskipun hanya akan memperoleh hasil tiga atau empat ribu rupiah?

“Penjual kacang itu pergi berjualan justru ketika malam tiba. Justru ketika orang berangkat beristirahat dan berangkat tidur. Ia berjualan, dengan kaki tertatih-tatih, karena ia memiliki tawakal dan takwa yang sangat tinggi terhadap kebaikan Allah. Ia sangat percaya Allah Mahaadil, sehingga dipilihnya pekerjaan yang setiap dari kalian membayangkan pun tak mau. Ia tak memilih menjadi maling, perampok, atau pencopet. Ia adalah manusia yang mulia di hadapan Allah.

“Pernahkah kalian bercita-cita memperoleh kemuliaan seperti itu? Yang lebih kalian cari bukanlah kebaikan, melainkan kekayaan. Yang lebih kalian buru bukanlah keluhuran, melainkan keenakan, kenyamanan; dan pada posisi seperti itu kalian selalu merasa lebih tinggi derajat kalian dibanding orang-orang kecil yang berjualan bakso, martabak, sate….

“Lihatlah penjual kacang itu: Kenapa ia tak sakit rematik? Berapa kali ia masuk angin oleh angin malam? Kenapa ia jauh lebih sehat dibanding famili-famili kalian yang kaya-kaya, yang macam-macam saja penyakitnya dan berplastik-plastik obatnya.

“Anak-anakku, renungkan. Coba mulai hitunglah kehidupan di sekitarmu. Hitung pulalah dirimu sendiri. Temukanlah kemuliaan di sekitarmu. Belajarlah membedakan mana kemuliaan dan mana kehinaan. Amatilah mana orang yang luhur, mana orang yang hina. Mana orang yang tinggi derajatnya dan mana yang rendah. Pakailah mata Allah sebagai ukuran….”

Suasana makin hening.

Tak biasanya Markesot berceramah. Malam ini entah apa yang ‘melewati’-nya.

**********************************************************************************************************************************

Referensi:
Markesot Bertutur; Bagian ke Enam; Sikap Hidup
Karya Emha Ainun Nadjib