Jelaslah sudah, sekarang kenapa Markesot terlambat kawin. Mampuslah dia. Makin lama dia makin jadi ‘oom-oom’ makin jadi ‘bapak-bapak’, padahal tak ada keluarga bersamanya. Kalau pagi harus bangun sendiri, membenahi tempat tidur sendiri, melipat sarung dan selimut, kemudian ini yang paling celaka, harus masak air sendiri dan ngracik (meracik) kopi sendiri. Belum lagi kalau sakit, siapa yang menyayangkan, tangan halus mana yang memijit-mijiti tengkuknya sambil bertanya: “Mas mau dibeliin buah atau makanan apa gitu…?”

Kalau pas musim pancaroba begini lholak-lholok-lah Markesot sendirian di biliknya. Kethap-kethip, ngitungi genteng (mengedipkan mata sambil menghitung genting)…

Salahnya dia tak punya kesiapan untuk menjadi manusia modern, menjadi lelaki modern, menjadi suami modern!

Markesot itu ndeso. Kuno dan mungkin kolot. Biasanya hanya kawin sama bayi. Biar bayi itu diciumi orang lain waktu diajak dolan ke rumah tetangga atau dibopong-bopong orang lain ketika diajak ke pasar; ndak apa-apa, wong masih kecil.

Tapi kalau sudah perawan, dibopong-bopong orang, diciumi orang, ‘kan celaka. Sekarang ini banyak yuyu kangkang. Siapa bisa jamin sesorang wanita dicintai Markesot belum pernah diembus oleh Yuyu Kangkang. Bahkan jangan-jangan diapeli malam Minggu, Seninnya sudah kencan sama Yuyu Kangkang. Ampun.

Kalau Markesot jalan-jalan di Tunjungan, berpapasan dengan muda-mudi yang berangkulan mesra, ia langsung berdoa dalam hati: Ya Allah, izinkanlah mereka segera menjadi suami-istri. Pertama karena yang berhak seperti itu hanyalah suami-istri. Kedua kalau mereka gagal jadi suami-istri, kasihan sama suaminya atau istrinya besok-besok oleh karen…

Kalau Markesot nonton film dan menyaksikan aktor dan artis pangku-pangkuan, berciuman bahkan bergelut setengah telanjang atau telanjang sama sekali, Markesot otaknya buntu. Pertama-tama dia bersumpah Ciker bungker matek ngadek gak kiro tak rabi arek koyok ngunu iku!” dikiranya bintang film itu mau rabi sama Markesot.

Kedua, Markesot tidak paham sampai mana batas lelaki dan wanita boleh membuka tubuhnya atau bersentuhan kulitnya. Bagaimana jelasnya konsep aurat itu. Yang boleh dibuka apa saja. Wajah? Lengan? Kelek? Leher? Susu? Paha? Dengkul? Yang mana boleh disentuh oleh orang yang bukan suami atau istrinya? Telapak tangan? Rambut? Atau glasnost saja? Keterbukaan total?

Nilai apa yang sebaiknya dijadikan pedoman menentukan aurat? Nilai etika ketimuran? Nilai budaya? Nilai estetika? Atau apa? Kalau berpedoman pada budaya,itu relatif sifatnya. Tidak ada patokan dasarnya. Dulu buka betis sedikit disawat bakiyak (ditimpuk bakiyak/sandal jawa), sekarang buka payudara separo orang malah senang. Dulu goncengan lanang wedok (laki perempuan) yang bukan muhrim langsung dirasani wong sak kecamatan, sekarang kumpul kebo saja makin luntur sanksinya. Jadi, relatif. Nisbi… Ndak tentu. Dalam budaya tertentu, bersenggama dengan anjing atau kuda tidak ditabrak oleh apa pun, malah dimantapkan oleh hak asasi. Orang menyangka hak asasi bisa menjawab segala-galanya. Hak asasi dan kebebasan. Burung-burung punya hak asasi dan kebebasan untuk terbang tinggi sampai ke matahari, mereka akan sirna terbakar. Burung tak bakal melakukan itu karena mereka patuh dalam tradisi Allah. Tapi banyak manusia lebih bodoh dari burung-burung.

Maka pedoman satu-satunya yang tegas dalam soal itu adalah agama. Budaya manusia tinggal menerjemahkannya.

Pedoman sikap yang semacam inilah yang membuat Markesot seperti tak punya kesiapan untuk memasuki “kehidupan modern”. Dia “kampungan”. Karena itu, ketika di Eropa Markesot amat mengagumi salah seorang temannya…. Ceritanya di kalangan teman-teman tertentu terdapat budaya free sex. Bermain cinta seperti piala bergilir, ganti berganti kapan saja mau. Ada seorang wanita yang pekerjaannya mengetuk pintu kamar lelaki ini ke pintu kamar lelaki yang lain sehingga pada saat-saat tertentu para lelaki yang “beruntung” itu mendiskusikan hal-hal mengenai cewek tersebut: tipenya, rasanya, tekniknya, apa pun sajanya.

Teman lelaki Markesot yang sangat ia kagumi adalah yang kemudian mengawini wanita tersebut. Tanpa kompleks psikologis yang serius, tanpa merasa gengsi bahwa ia kawin hanya “oleh karena konco-konco dhewe”, teman Markesot itu menikahi wanita itu dan mengangkatnya ke suatu level kehidupan yang lebih tertata nilainya dan mulia masa depannya.

Sesudah mereka kawin, tetap mereka berada dalam lingkaran pergaulan teman-teman tersebut. Dan itu sungguh menakjubkan. Sang suami dengan tenteram menyimpan ingatan bahwa istrinya itu adalah wadah kenduren-nya teman-teman. Dan para sahabat itu pun dengan tenteram menyembunyikan perasaan bahwa istri karibnya itu’ dulu ‘piala bergilir’ mereka. Bahkan bukan ‘piala yang digilir’, melainkan ‘piala yang menggilir’.

Markesot pusing tujuh keliling. Di dalam sekularisme, agama dianggap sebagai urusan pribadi. “Tidak!” Markesot membantah tanggapan itu. ‘Agama adalah urusan sosial, urusan kebudayaan, urusan peradaban. Agama memberi tuntutan bagaimana bergaul dengan alam, dengan orang lain, dengan jin, malaikat, dan Tuhan. Agama memberi pedoman bagaimana mengkonsep sejarah dan kehidupan. Sebab kalau saya menempeleng orang itu sepenuhnya urusan sosial. Itu kriminalitas. Dan dengan tegas agama melarang perbuatan itu”.

Saking pusingnya, Markesot terkadang berpendapat bahwa mencium wanita yang bukan muhrim, bahkan memandang auratnya saja pun, jangan-jangan juga tergolong tindakan kriminal. Sebab dalam putaran nilai adat budaya manusia secara jangka panjang, hal ini sungguh-sungguh bersifat destruktif. Itu bukan sekadar urusan pribadi, lebih dari sekadar dimensi hak asasi dan kebebasan; itu adalah persoalan konsep, batas dan strategi kebudayaan umat manusia.

Lha kok dari kernet teman Markesot yang dari Jakarta itu ketika ketemu di Muktamar NU di Yogya ada kisah tentang tukar-menukar istri suami di kalangan tertentu dari kebudayaan masyarakat metropolitan Jakarta.

Markesot buntu otaknya. Tak bisa dia bayangkan persuami-istrian macam apa itu. Apa yang mereka dialogkan sehari-hari kalau privacy masing-masing atau keduanya malah dikendurenkan kepada orang lain. Bagaimana bentuk kemesraan mereka. Bagaimana membangun kedudukan suami-istri, kekhusyukan cinta.

Bongko (mampus) rasanya.

Markesot jadinya makin nglangut di biliknya. Bercinta dengan sunyi.

“Sunyi itu kudus,” katanya berpuasa.

Ndeso betul dia.

**********************************************************************************************************************************

Referensi:
Markesot Bertutur; Bagian ke Dua; Agama dan Peradaban
Karya Emha Ainun Nadjib